di suatu kegiatan mahasiswa, yaitu KKN, disana saya ditunjuk menjadi ketua kelompok KKN. sebagai ketua, tentu banyak hal saya lah yang di depan, tak terelakkan ketika menjadi imam sholat. selain namaku imam, posisi ku sebagai ketua kelompok juga merupakan faktor pendukung untuk sebagai imam sholat, hmm.

namun ada satu hal yang unik sampai kini (beberapa tahun berlalu) masih ku ingat. yaitu salah seorang perempun mengira bahwa aku adalah anak pondok. mungkin dia merasa bahwa ketika aku menjadi imam adalah salah satu bentuk keyakinannya bahwa aku pernah belajar agama di pondok.

namun selain itu juga karena aku menjadi salah satu guru mengaji TPQ ketika proker KKN nya adalah mengajar ngaji di TPQ.

apa karena kedua hal itu lantas sudah mencukupi bahwa aku dapat dikatakan anak santri? hmm seharusnya sih tidak kan ya, tapi ntah lah

aku tahu bahwa dia mengiraku anak santri karena ada temen deketnya yang menyampaikan langsung kepadaku lantaran dia sendiri tidak berani menanyakannya langsung.

kalo boleh sedikit GE’ER, mungkin dia suka aku xixixi karena di tahun selanjutnya ketika dia diundang ke pernikahan temen deketnya, dia menanyakanku apakah aku akan datang, jika iya maka dia mengajak bareng.

biar lah, ku biarin saja jika memang dia suka aku (pada akhirnya).

dulu aku suka, sama dia, tapi yaaa gimana ya, ternyata perasaan suka itu tidak bertahan lama, yang dulu aku suka dia tapi dia tidak suka aku, tapi setelah KKN malah kebalikannya, dia yang suka aku sementara aku tidak suka dia.

itu bukan kali pertama sih aku dikira anak pondok (santri) Link to heading

teman teman ku lainnya juga mengira aku santri, padahal aku hanya melaksanakan apa yang aku dengar tausiah dari sosial media. entah amalan, doa, ibadah apapun itu yang sekiranya baik ya aku lakukan, sudah, itu saja.

tapi hal itu ternyata berdampak ke citra yaaa

sebenarnyaa… Link to heading

mungkin aku cerita sejujurnya saja lah

jujurr emang aku sejak kecil sampai besar sekarang ini, kepingin banget mondok, belajar agama ke kyai, tapi ntah mengapa seolah takdir selalu menggiringku ke tepi lain. aku hanya bisa menjadi santri online, yang mengikuti kajian di youtube yang kadang di upload ulang kajian beberapa tahun lalu yang sudah ku lihat.

tapi, mungkin ini ya yang membedakan aku dengan lainnya, ketika aku mendengar ceramah gitu selalu (mayoritas sih) aku laksanakan, misal ada amalan sebelum subuh, amalam setelah dzuhur, dan amalan lainnya itu selalu aku lakuin. (tentu ini dengan ibadah wajib yg sudah terpenuhi)

karena ini aku jadi terlihat “rajin ibadah”, padahal mah biasa saja ya, ibadah ya ibadah saja, aku hanya ingin dianggap sebagai hamba yang istiqomah ibadah walau banyak maksiatnya.

untuk ibadahku apa saja mungkin ku ceritakan di lain saja ya, kalo disini mungkin terlalu penuh halamannya.